Skip to main content

KITA LEMAH


Generasi Hebat

Indonesia adalah sebuah negara agraris dengan penduduk yang terjalin harmonis. Ada banyak sekali hal-hal unik yang hanya dimiliki oleh bangsa Indonesia, seperti bahasa, ideologi, dan juga budaya. Hanya Indonesia-lah yang memiliki badak bercula satu. Hanya Indonesia-lah yang memiliki bahasa jawa. Hanya Indonesia-lah yang merupakan negara kepulauan dengan pancasila sebagai pemersatu. Dan hanya Indonesia yang dengan bangga menjadikan perbedaan menjadi suatu kekuatan, kekuatan Bhineka Tunggal Ika.

Namun, dewasa ini dapat diperhatikan bahwa penduduk di Indonesia telah dimanjakan oleh yang namanya kecanggihan teknologi, hingga melupakan budayanya sendiri, bahkan hingga mengancam keutuhan ideologi, yaitu pancasila sebagai dasar kepribadian bangsa. Semua itu terjadi bukanlah karena “mereka” tetapi karena “kita”. It’s all about us. Kita yang mulai menghilangkan ciri khas bangsa gotong royong. Kita yang memudarkan keyakianan terhadap agama sendiri. Kita sibuk menuduh dan saling menjatuhkan sesama kita sendiri. Kita sudah kehilangan jati diri. Akibat adanya globalisasi.

Tak bisa dipungkiri bahwasanya perkembangan globalisasi di era digital ini sangat memuncak pesat. Hingga filtrasi terhadap paham-paham yang dapat menghancurkan kesatuan bangsa tak dapat diminimalisasi. Coba lihat, anak-anak bangsa yang katanya pemegang tongkat estafet bangsa ini malah sibuk menjadikan tongkat itu sebagai sikat, mereka mulai menjadi orang-orang dewasa dalam tanda kutip, mereka tersiksa oleh sinetron yang penuh drama tidak penting. Kasihan mereka. Bukan salah mereka bila mereka begitu. Adalah para orang tua, pemerintah, dan juga mahasiswa yang memegang tanggung jawab penuh terhadap fenomena yang terjadi kini. Diluar itu, saya jadi teringat dengan kalimat seseorang “Generasi yang hebat bukanlah generasi yang mampu menjadikan dirinya baik, tetapi generasi yang hebat adalah generasi yang mampu menciptakan generasi yang lebih baik dari generasinya”, dan karena itu, Seberapa hebat kita?

Mungkin bila kita berbicara tentang masalah dari bangsa ini beserta turunan-turunannya akan sangat banyak memakan waktu. Namun dari semua itu, bisa jadi masalah-masalah itu bermuara kepada pola pikir dan akhlak dari para penduduknya. Kenapa? Karena semua tindakan, tetapan, putusan, hukuman, perjalanan, dan pelajaran semuanya diambil berdasarkan pikiran dan akhlak dari para penduduknya, dan semua itu disahkan oleh penduduk itu sendiri. Lalu bagaimana cara memperbaikinya? Caranya mudah, tingkatkan kualitas pendidikan. Caranya? Tingkatkan literasi anak. Simpel bukan?. Namun biar bagaimanapun, semua perubahan besar tidak ada yang instan. Bila perubahan itu instan, maka perubahan itu akan berubah kembali semula dengan instan pula, atau bahkan mungkin akan timbul “penyakit-penyakit” baru. Perubahan besar selalu diawali denganlangkah- langkah kecil yang berkesinambungan atau berkelanjutan. Percayalah bahwasanya setiap hal-hal kecil yang kita lakukan untuk pengembangan literasi kini, akan menjadi efek kupu-kupu yang pada suatu masa akan menjadi sesuatu yang membanggakan.

Sekedar informasi, berdasarkan data statistik dari UNESCO, dari 61 negara, Indonesia mendapatkan peringkat ke 60 dengan tingkat literasi rendah. Peringkat 59 diduduki oleh Thailand, dan pada peringkat terakhir adalah Botswana. Sedangkan peringkat pertama diduduki oleh Finlandia dengan tingkat literasi ynag tinggi, hampir mencapai 100%. Miris bukan?. Hal ini terjadi disebabkan oleh kualitas pendidikan yang rendah, infrastruktur pendidikan minim, kecukupan gizi yang tidak mumpuni, dan minat baca masyarakat Indonesia tergolong rendah. (sumber: www.student.cnnindonesia.com)

Sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia, yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa”, maka dari itu saya disini, sebagai mahasiswa yang peduli akan masa depan bangsa sendiri. Akan bergerak membantu pengembangan literasi di Indonesia. Walau hanya berstatus sebagai mahasiswa baru, namun semangatku untuk negeri bukan lagi hal yang baru. Negeri ini sudah saatnya berganti generasi. melakukan manuver-manuver terbaru yang inovatif adalah tugasnya generasi penerus.

Dimasa depan, akan ada masa dimana saya atau siapapun yang bermimpi sama, akan muncul gramedia-gramedia baru yang menjadi pusat toko buku, akan muncul masa dimana adanya salim media-salim media baru yang menjadi “canvas” bagi cantiknya “lukisan” literasi di jambi, akan ada wasril tanjung-wasril tanjung lainnya yang turut menjadi salah satu warna yang menghiasi “lukisan” literasi di Indonesia, terkhusus di Jambi. Saya atau siapapun yang bermimpi sama, akan bersinergi membangun negeri ini dengan mendirikan fasilitas-fasilitas terkait dengan pengembangan literasi di Indonesia. Bagaimana caranya? Tentu saja (sekali lagi) dengan langkah-langkah kecil yang berkesinambungan, lalu dengan seiring waktu bergulir langkah-langkah kecil tadi menjadi suatu perjalanan penuh arti, yang memberikan dampak hebat terhadap kehidupan diri maupun negeri. Kapan langkah itu dimulai? Sekarang. Bukan besok, minggu depan, ataupun tahun depan. Karena disetiap waktunya, memiliki satuan nilai tersendiri dalam perjalanan ini, yang ketika terlewati akan ada masa-masa yang merugi dan akan disesali.

Maka dari itu, untuk berkontribusi membangun negeri ini, kini ku bergerak maju tanpa mundur dengan harapan penuh akan kebaikan-kebaikan yang muncul secara alamiah dari hati yang penuh akan cinta dan semangat yang membara api. Mungkin perjalanan ini akan menjadi perjalanan panjang penuh drama, namun aku yakin bahwasanya intan terbaik lahir dari dua hal: suhu dan tekanan tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin keras tekanan yang diperolehnya. Jika dia mampu bertahan, tidak hancur, dia justru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya.

Inilah langkah kecilku, dan inilah aku.

_
Backlink:
Universitas Jambi
Repository UNJA
Undang Jurnal Hukum
UNJA Jurnal Online UNJA

Comments

Post a Comment